BAB I
P E N D A H U L U A N

Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk mengenalkan Islam ini diutus Rasulullah SAW. Tujuan utamanya adalah memperbaiki manusia untuk kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu selam kurang lebih 23 tahun Rasulullah SAW membina dan memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu. Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada Allah SWT.
Manusia mendapat kehormatan menjadi khalifah di muka bumi untuk mengolah alam beserta isinya. Hanya dengan ilmu dan iman sajalah tugas kekhalifahan dapat ditunaikan menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seluruh makhluk-Nya. Tanpa iman akal akan berjalan sendirian sehingga akan muncul kerusakan di muka bumi dan itu akan membahayakan manusia. Demikian pula sebaliknya iman tanpa didasari dengan ilmu akan mudah terpedaya dan tidak mengerti bagaimana mengolahnya menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seisinya.
Allah Swt. mengutus para Nabi dan Rasul sebagai pembawa risalah dan sebagai penerang serta washilah untuk menunjukan manusia kepada jalan yang lurus, jalan yang keridhoan dan jalan yang akan menyelamatkan manusia dalam setiap dimensi kehidupan, tidak hanya duniawi yang dikejar akan tetapi keabadian akhirat sebagai tujuan utama dalam mengarungi kehidupan ini.
Allah menurunkan Kitab-Kitab kepada para Nabi dan Rasul-Nya sebagai bukti atas kebesaran-Nya dan juga sebagai ujian bagi manusia, apakah manusia akan berimana pada kitab-kitab tersebut ataukan ia akan menjadi golongan pembangkang yang mendapatkan murka Allah Swt.
Pada ayat-ayat berikut penyusun akan mencoba memamaprakn beberapa penafsiran tentang ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an yang mengandung pelajaran dan mengabarkan bahwa Allah Swt. mengutus Nabi dan Rasul dengan Mambawa Kitab yang harus dijadikan landasan dalam gerak kehidupan dan ayat-ayat ini menerangkah tentang risalah nubuwah atau risalah tentang kenabian beserta Kitab yang dibawa besertanya.

BAB II
P E M B A H A S A N

1. QUR’AN SURAT AN-NAHL (16) AYAT 36
a. Teks Ayat Surat An-Nahl : 36
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللَّهَ وَاجْتَنِبُواْ الْطَّـغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَـلَةُ فَسِيرُواْ فِى الاٌّرْضِ فَانظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَـقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ.
b. Terjemah Mufodat
أُمَّةٍ

كُلِّ

فِى

بَعَثْنَا

وَلَقَدْ
Umat/bangsa

Tiap-tiap

pada

Kami telah mengutus

Dan sungguh
الْطَّـغُوتَ

وَاجْتَنِبُواْ

اللَّهَ

اعْبُدُواْ

رَّسُولاً
(penyembahan) thagut: berhala2/syetan

Dan jauhilah

Allah

(yang memerintahkan kalian) sembahah

Seorang Rasul
مَّنْ حَقَّتْ

وَمِنْهُمْ

هَدَى اللَّهَ

مَّنْ

فَمِنْهُم
Ada orang yang telah pasti (diazali)

Dan diantara mereka

Allah memberi petunjuk padanya

(ada) orang yang

Maka diantara mereka
الاٌّرْضِ

فِى

فَسِيرُواْ

الضَّلَـلَةُ

عَلَيْهِ
Muka bumi

di

Maka berjalanlah kalian

kesesatan

atasnya
الْمُكَذِّبِينَ

عَـقِبَةُ

كَانَ

كَيْفَ

فَانظُرُواْ
Orang-orang yang mendustakan para Rasul

kesudahan

jadinya

bagaimana

Lalu kalian perhatikanlah

c. Terjemah Ayat
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[826] itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya[826]. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”

d. Pengertian Global
Dalam Surat An-Nahl Ayat 36, ayat ini menghibur nabi muhammad SAW, dalam menghadapi para pembangkang dari kaum beliau, seakan-akan ayat ini menyatakan: Allah pun telah mengutusmu, maka ada diantara umatmu yang menerima baik ajakanmu dan ada juga yang membangkang.
Kata (الْطَّـغُوتَ) thaghut terambil dari kata (طغى) thagha yang pada mulanya berarti melampaui batas. Ia biasa juga dipahami dalam arti berhala-berhala, karana penyembahan berhala adalah sesuatau yang sangat buruk dan melampui batas. Dalam arti yang lebih umum, kata tersebut mencakup segala sikap dan perbuatan yang melampaui batas, seperti kekufuran kepada Tuhan, pelanggaran, dan sewenang-wenangan terhadap manusia.
Allah mengabarkan kepada kita untuk meneliti sejarah umat terdahulu, baik umat yang memperoleh dan mendapat petunjuk dari Allah Swt. ataupun ummat yang membangkang karena didalamnya terdapat pelajaran yang berharga bagi manusia dan menjadi bekal agar manusia tidak terjerumus kedalam lubang yang sama untuk kesekian kalinya.

e. Tafsir Ayat
Kemudian daripada itu Allah SWT menjelaskan bahwa para Rasul itu diutus sesuai dengan Sunatullah, yang berlaku pada umat sebelumnya. Mereka itu adalah pembimbing manusia ke jalan yang lurus. Bimbingan Rasul-rasul itu diterima oleh orang-orang yang dikehendaki oleh Allah dan menyampaikan mereka kepada kesejahteraan dunia dan kebahagiaan akhirat, akan tetapi orang-orang yang bergelimang dalam kemusyrikan dan jiwanya dikotori oleh noda noda kemaksiatan tidaklah mau menerima bimbingan Rasul itu.
Allah SWT menjelaskan bahwa Dia telah mengutus beberapa utusan kepada tiap-tiap umat yang terdahulu, seperti halnya Dia mengutus Nabi Muhammad saw kepada umat manusia seluruhnya. Oleh sebab itu manusia hendaklah mengikuti seruannya, yaitu beribadat hanya kepada Allah SWT yang tidak mempunyai serikat dan larangan mengingkari seruannya, yaitu tidak boleh mengikuti tipu daya setan yang selalu-menghalang-halangi manusia mengikuti jalan yang benar. Setan-setan itu selalu mencari-cari kesempatan untuk menyesatkan manusia.
Allah SWT berfirman Artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (Q.S Al Anbiya': 25)
Dan firman Nya lagi Artinya: Dan tanyakanlah kepada Rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukun Tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?”. (Q.S Az Zukhruf: 45)
Dari uraian tersebut dapatlah dipahami bahwa secara yuridis Allah tidak menghendaki hamba Nya menjadi kafir, karena Allah SWT telah melarang mereka itu mengingkari Allah. Larangan itu telah disampaikan melalui Rasul-Nya. Akan tetapi apabila ditinjau dari tabiatnya, maka di antara hamba Nya mungkin saja mengingkari Allah, karena manusia telah diberi pikiran dan diberi kebebasan memilih sesuai dengan kehendaknya. Maka takdir Allah berlaku menurut pilihan mereka itu. Maka apabila ada di antara hamba Nya yang tetap bergelimang dalam kekafiran dan dimasukkan ke neraka Jahanam bersama sama dengan setan-setan mereka, maka tidak ada alasan bagi mereka untuk membantah, karena Allah telah cukup memberikan akal pikiran serta memberikan pula kebebasan untuk memilih dan menentukan sikap jalan mana yang harus mereka tempuh. Sedang Allah sendiri tidak menghendaki apabila hamba Nya itu menjadi orang-orang yang kafir.
Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa Allah telah memperingatkan sikap hamba Nya yang mendustakan kebenaran Rasul. Dengan mengancam mereka akan memberikan hukuman di dunia apabila setelah datang peringatan dari Rasul, mereka tidak mau mengubah pendiriannya. Allah SWT menjelaskan bahwa setelah mereka kedatangan Rasul ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan diberi taufik karena mereka telah mempercayai Rasul, menerima petunjuk-petunjuk yang dibawanya serta suka mengamalkan petunjuk-petunjuk itu. Mereka inilah orang-orang yang berbahagia dan selamat dari siksaan Allah. Akan tetapi di antara mereka ada pula yang benar-benar menyimpang tidak mau mengikuti petunjuk Rasul Nya, dan mengikuti tipu daya setan-setan, maka Allah membinasakan mereka dengan hukuman Nya yang sangat pedih. Dan Allah menurunkan pula berbagai macam bencana yang tidak dapat mereka hindari lagi.
Sesudah itu Allah SWT memerintahkan kepada mereka agar berkelana di muka bumi serta menyaksikan negeri-negeri yang didiami oleh orang-orang zalim. Kemudian mereka disuruh melihat bagaimana akhir kehidupan orang-orang yang mendustakan agama Allah. Di dalam ayat ini Allah SWT menyuruh manusia agar mengadakan penelitian terhadap sejarah bangsa yang lain dan membandingkan di antara bangsa-bangsa yang menaati Rasul dengan bangsa-bangsa yang mengingkari seruan Rasul agar mereka dapat membuktikan bagaimana akibat dari bangsa-bangsa itu. Hal ini tiada lain hanyalah karena Allah menginginkan agar mereka itu mau mengikuti seruan Rasul dan melaksanakan seruannya.

2. QUR’AN SURAT AL-HADID (57) AYAT 25
a. Teks Ayat
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَـتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَـبَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنزْلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَـفِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِىٌّ عَزِيزٌ.
b. Terjemah Mufrodat
وَأَنزَلْنَا

بِالْبَيِّنَـتِ

رُسُلَنَا

أَرْسَلْنَا

لَقَدْ
Dan kami turunkan

Dengan bukyti-bukti nyata/mukjizat

Rasul-rasul kami

Kami telah mengutus

sungguh
النَّاسُ

لِيَقُومَ

وَالْمِيزَانَ

الْكِتَـبَ

مَعَهُمُ
manusia

Agar berlaku

Dan neraca/keadilan

Kitab

Bersama mereka
بَأْسٌ

فِيهِ

الْحَدِيدَ

وَأَنزْلْنَا

بِالْقِسْطِ
Kekuatan

(yang) padanya (terdapat)

besi

Dan kami turunkan

Dengan adil
مَن

وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ

لِلنَّاسِ

وَمَنَـفِعُ

شَدِيدٌ
Siapa yang

Dan agar Allah mengetahuia

Untuk manusia

Dan beberapa manfaat

yang sangat
قَوِىٌّ

إِنَّ اللَّهَ

بِالْغَيْبِ

وَرُسُلَهُ

يَنصُرُهُ
Maha Kuat

Sesuangguhnya Allah

Dalam keadaan tidak terlihat orang lain

Dan Rasul-rasul-Nya

Dia menolong agama-Nya

عَزِيزٌ

Maha Perkasa

c. Terjemah Ayat
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”

d. Pengertian Global
Pada Ayat ke-25 Surat Al-Hadid yang berarti Besi ini Allah Swt. mengabarkan kepada kita semua bahwa Allah Swt. telah mengutus beberapa Rasul untuk menyampaikan Risalahnya dengan berbagai kemampuan dan bukti nyata (Mukjizat) yang membuktikan bahwa para Rasul adalah manusia yang dipilih Allah untuk menyebarkan risalah-Nya. dalam hal ini Allah Swt. menjelaskan telah menjadikan besi bagi kemanfaatna manusia dan dijadikan sebagai bukti bahwa Allah Swt. yang bekehendaka atas segala sesuatu dan segala hal.
Allah Swt. mengutus para Rasul disertai dengan Kitab dimana didalamnya terdapat tentang ajaran-ajaran yang harus disampaikan oleh para Rasul kepada Ummatnya, dinatara kitab-kitab itu adalah Zabur, Taurat, Injil dan Al-Qur’an sebagai penyempurna dari kitab-kitab sebelumnya dan menjadi dasar untuk menegakan neraca keadilan atau sebagai dasar dalam setiap pengambilan keputusan atas berbagai permasalahan.
Pada akhir ayat tersebut Allah Swt. memberikan penjelasan tentang adanya manfaat dari besi dan kehebatan yang luar biasa sebagai bukti ke Maha Agungan dan ke Maha Besar-an Allah Swt. Karen memang telah kita ketahui bersama dengan adanya besi ini kita dapat merasakan kehidupan yang lebih baik dan paling penting dalpat mengubah peradaban manusia menuju lebih baik dengan dibuktikan semakin pesatnya perkembangan tekhnologi dan informasi yang merupakan salah satu manfaat dari besi yang telah digambarkan oleh Allah pada ayat tersebut.

e. Tafsir Ayat
Allah SWT menerangkan bahwa Dia telah mengutus para Rasul kepada umat-umat Nya dengan membawa bukti-bukti yang kuat untuk membuktikan kebenaran risalah Nya. Di antara bukti-bukti itu, ialah mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada para Rasul itu, seperti tidak terbakar oleh api sebagai mukjizat Nabi Ibrahim as, mimpi yang benar sebagai mukjizat Nabi Yusuf as, Tongkat sebagai mukjizat Nabi Musa as. Alquran sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw dan sebagainya.
Dalam pada itu setiap Rasul yang diutus itu bertugas menyampaikan agama Allah kepada umatnya. Ajaran agama itu adakalanya tertulis dalam sahifah-sahifah dan adakalanya termuat dalam suatu kitab, seperti Taurat, Zabur, Injil dan Alquran. Ajaran agama itu berupa petunjuk bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Sebagai dasar mengatur dan membina masyarakat, maka setiap agama yang dibawa oleh para Rasul itu mempunyai asas “keadilan”. Keadilan ini wajib ditegakkan oleh para Rasul dan pengikut-pengikutnya dalam masyarakat, yaitu keadilan penguasa terhadap rakyatnya, keadilan suami sebagai kepala rumah tangga, keadilan pemimpin atas yang dipimpinnya dan sebagainya, sehingga seluruh anggota masyarakat sama kedudukannya dalam hukum, sikap dan perlakuan.
Di samping itu Allah SWT menganugerahkan kepada manusia “besi” suatu karunia yang tidak terhingga nilai dan manfaatnya. Dengan besi dapat dibuat berbagai macam keperluan manusia, sejak dari yang besar sampai kepada yang kecil, seperti berbagai macam kendaraan di darat, di laut dan di udara, keperluan rumah tangga dan sebagainya. Dengan besi pula manusia dapat membina kekuatan bangsa dan negaranya, karena dari besi dibuat segala macam alat perlengkapan pertahanan dan keamanan negeri, seperti senapan, kendaraan perang dan sebagainya. Tentu saja semuanya itu hanya diizinkan Allah menggunakannya untuk menegakkan agama Nya, menegakkan keadilan dan menjaga keamanan negeri.
Allah SWT menerangkan bahwa Dia melakukan yang demikian itu agar Dia mengetahui siapa di antara hamba-hamba Nya yang mengikuti dan menolong agama yang disampaikan para Rasul yang diutus Nya dan siapa yang mengingkarinya. Dengan anugerah itu Allah SWT ingin menguji manusia dan mengetahui sikap manusia terhadap nikmat Nya itu. Manusia yang taat dan tunduk kepada Allah akan melakukan semua yang disampaikan para Rasul itu, karena ia yakin bahwa semua perbuatan, sikap dan isi hatinya diketahui Allah, walaupun ia tidak melihat Allah mengawasi dirinya.
Sehubungan dengan kegunaan besi ini diterangkan dalam hadis Artinya: Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Bersabda Rasulullah saw: “Aku diutus dengan pedang (besi) sebelum kedatangan Hari Kiamat (akhir zaman), sehingga orang menyembah Allah saja, tidak ada syerikat bagi Nya dan Allah menjadikan rezekiku di bawah naungan tombakku dan menjadikan hina dan rendah orang yang menyalahi perintahku, dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum itu”. (H.R. Ahmad dan Abu Daud)
Pada akhir ayat ini Allah SWT menegaskan kepada manusia bahwa Dia Mahakuat, tidak ada sesuatu pun yang mengalahkan Nya, bahwa Dia Mahaperkasa dan tidak seorang pun yang dapat mengelakkan diri dari hukuman yang telah ditetapkan Nya.

Tafsir Jalalain Surah Al Hadiid : 25
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَـتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَـبَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنزْلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَـفِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِىٌّ عَزِيزٌ.
(Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami) yaitu malaikat-malaikat-Nya kepada nabi-nabi (dengan membawa bukti-bukti yang nyata) hujah-hujah yang jelas dan akurat (dan telah Kami turunkan bersama mereka Alkitab) lafal Alkitab ini sekalipun bentuknya mufrad tetapi makna yang dimaksud adalah jamak, yakni al-kutub (dan neraca) yakni keadilan (supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi) maksudnya Kami keluarkan besi dari tempat-tempat penambangannya (yang padanya terdapat kekuatan yang hebat) yakni dapat dipakai sebagai alat untuk berperang (dan berbagai manfaat bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui) supaya Allah menampilkan; lafal waliya’lamallaahu diathafkan pada lafal liyaquman-naaasu (siapa yang menolong-Nya) maksudnya siapakah yang menolong agama-Nya dengan memakai alat-alat perang yang terbuat dari besi dan lain-lainnya itu (dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya) lafal bil-ghaibi menjadi hal atau kata keterangan keadaan dari dhamir ha yang terdapat pada lafal yanshuruhu. Yakni sekalipun Allah tidak terlihat oleh mereka di dunia ini. Ibnu Abbas r.a. memberikan penakwilannya, mereka menolong agama-Nya padahal mereka tidak melihat-Nya. (Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa) artinya Dia tidak memerlukan pertolongan siapa pun, akan tetapi perbuatan itu manfaatnya akan dirasakan sendiri oleh orang yang mengerjakannya.

3. QUR’AN SURAT AL-MAIDAH (5) AYAT 48
a. Teks Ayat Surat Al-Maidah : 48
وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الْكِتَـبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَـبِ وَمُهَيْمِناً عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ اللَّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَـجاً وَلَوْ شَآءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَحِدَةً وَلَـكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَـكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ إِلَى الله مَرْجِعُكُمْ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ.
b. Terjemah Mufrodat
مُصَدِّقاً

بِالْحَقِّ

الْكِتَـبَ

إِلَيْكَ

وَأَنزَلْنَآ
Yang membenarkan

Dengan sebenarnya

Kitab
(al-Qur’an)

kepadamu

Dan telah Kami turunkan
عَلَيْهِ

وَمُهَيْمِناً

مِنَ الْكِتَـبِ

بَيْنَ يَدَيْهِ

لِّمَا
atasnya

Dan yang menjaga (menjadi saksi)

Dari Kitab (Taurat dan Injil

dihadapannya

Terhadap apa yang
وَلاَ

أَنزَلَ اللَّهُ

بِمَآ

بَيْنَهُم

فَاحْكُم
Dan jangan

Telah Allah turunkan

Dengan apa (al-Qur’an) yang

Diantara mereka (ahli kitab)

Maka putuskanlah hukum
مِنَ الْحَقِّ

جَآءَكَ

عَمَّا

أَهْوَآءَهُمْ

تَتَّبِعْ
Yang benar dari (al-qur’an)

Telah databf padamu

Dengan meninggalkan apa yang

Hawa nafsu mereka

Engkau mengikuti
وَمِنْهَـجاً

شِرْعَةً

مِنكُمْ

جَعَلْنَا

لِكُلٍّ
Dari jalan agama

Syari’ah

Diantara kalian

Telah kami jadikan

Bagi tiap-tiap (umat)
وَلَـكِن

وَحِدَةً

أُمَّةً

لَجَعَلَكُمْ

شَآءَ اللَّهُ
Akan tetapi

Yang satu (tidak ada perbedaan syari’at)

umat

Niscaya dia menjadikan kalian

Allah menghendaki
الخَيْرَاتِ

فَاسْتَبِقُوا

ءَاتَـكُم

فِى مَآ

لِّيَبْلُوَكُمْ
(dalam)ebajikan-kebajikan

Maka berlomba-lombalah kalian

Dia datangkan kepada kalian

Terhadap apa yang

Dia hendak menguji kalian
بِمَا

فَيُنَبِّئُكُم

جَمِيعاً

مَرْجِعُكُمْ

إِلَى الله
Dengan apa yang

Lalu Dia memberi tahu kalian

Semua(nya)

Tempat kalian kembali

Kepada Allah

تَخْتَلِفُونَ

فِيهِ

كُنتُمْ

Kalian berselisih (syari’at agama)

didalamnya

Kalian dahulu

c. Terjemah Ayat
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian[421] terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu[422], Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,”

d. Pengertian Global
Pada ayat ini Allah Swt. menjelaskan bahwa Allah Swt. telah menurunkan Al-Qur’an sebagai bukti kebenaran atas apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. kepada ummatnya. Dimana Al-Qur’an merupakan Kitab yang menyempurnakan Kitab-Kitab yang telah diturunkan kepada para Nabi dan Rasul terdahulu karena memang Kitab-Kitab terdahulu telah banyak diubah dan dimanipulasi oleh prkataan-perkataan manusia.
Kemudian Allah Swt. menegaskan untuk menggunakan Al-Qur’an sebagai dasar untuk memutuskan setiap perkara dan menjadi dasar dalam lkehidupan manusia serta tidak terbawa oleh hawa nafsu yang akan membawa kepada keburukan dan kebinasaan sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Ahli Kitab yang mengingkari kebenaran Al-Qur’an.
Allah Swt. menerangkan pula bahwa Allah Swt. sangat bisa untuk menjadikan ummat ini menjadi satu golongan, hanya saja Allah hendak menguji kepada manusia agar dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, serta memberikan pilihan kepada kebaikan atau kepada keburukan, oleh Karena itu Allah Swt. menyuruh kepada kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, berlomba-lomba mencari jalan yang telah diisyaratkan oleh Allah dalam setipa firman-Nya dan Allah Swt. menurunkan Kitab Al-Qur’an untuk menjadi penengah dan sebagai petunjuk menuju jalan yang lurus dan menghindari perselisihan diantara ummat ini. Kemudian kelak Allah Swt. akan menjelaskan mana yang benar dan mana yang salah atas pilihan manusia itu, karena semuanya berpulang dan akan kembali kepada Allah Swt.

e. Tafsir Ayat
Setelah Allah swt. menerangkan bahwa kitab Taurat telah diturunkan kepada Nabi Musa a.s. dan kitab Injil telah diturunkan pula kepada Nabi Isa a.s. dan agar kitab tersebut ditaati dan diamalkan oleh para penganutnya masing-masing, maka pada ayat ini diterangkan bahwa Allah swt. menurunkan kepada Nabi dan Rasul terakhir Muhammad saw. kitab suci Alquran yaitu kitab samawi terakhir yang membawa kebenaran, mencakup isi dan membenarkan kitab suci sebelumnya seperti kitab Taurat dan Injil. Alquran adalah kitab yang terpelihara dengan baik, sehingga ia tidak akan mengalami perubahan dan pemalsuan.
Alquran adalah kitab suci yang menjamin syariat yang murni sebelumnya dan kitab suci satu-satunya yang berlaku sejak diturunkannya sampai hari kemudian. Oleh karena itu pantaslah, bahkan wajib menghukum dan memutuskan perkara putra manusia sesuai dengan hukum yang telah diturunkan Allah yang telah terdapat di dalamnya dan bukanlah pada tempatnya menuruti keinginan dan kemauan hawa nafsu mereka yang bertentangan dengan kebenaran yang dibawa oleh Junjungan kita Nabi Muhammad saw.
Tiap-tiap umat Allah diberi syariat (peraturan-peraturan khusus) dan diwajibkan kepada mereka melaksanakannya dan juga mereka telah diberi jalan dan petunjuk yang harus melaksanakannya untuk membersihkan diri dan menyucikan batin mereka. Syariat setiap umat dan jalan yang harus ditempuhnya boleh saja berubah rubah dan bermacam-macam tetapi dasar dan landasan Agama Samawi hanyalah satu. Kitab Taurat, Injil dan Alquran, masing-masing mempunyai syariat tersendiri, di mana Allah swt. telah menentukan hukum halal dan haram, sesuai dengan kehendak-Nya untuk mengetahui siapa yang taat dan siapa yang tidak.
Firman Allah swt. Artinya: Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan padanya, “Bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku” maka sembahlah Aku olehmu sekalian. (Q.S. Al-Anbiya': 25)
Sekiranya Allah swt. menghendaki, tentulah Dia dapat menjadikan manusia hanya mempunyai satu syariat dan satu macam jalan pula yang akan ditempuh dan diamalkan mereka sehingga dari zaman ke zaman tidak ada peningkatan dan kemajuan seperti halnya burung dan lebah, tentunya akan terlaksana dan tidak ada kesulitan sedikitpun, karena Allah swt. kuasa atas segala sesuatu tetapi yang demikian itu tidak dikehendaki oleh-Nya.
Allah swt. menghendaki manusia itu sebagai makhluk yang dapat mempergunakan akal dan pikirannya, dapat maju dan berkembang dari zaman ke zaman. Dari masa kanak-kanak ke masa remaja meningkat jadi dewasa dan seterusnya.
Demikianlah Allah swt. menghendaki dan memberikan kepada tiap-tiap umat syariat tersendiri untuk menguji sampai di mana manusia itu dapat dan mampu melaksanakan perintah Allah atau menjauhi larangan-Nya. Sebagai mana yang telah ditetapkan di dalam kitab Samawi-Nya, untuk dapat diberi Pahala atau disiksa.
Oleh karena itu seharusnyalah manusia berlomba-lomba berbuat kebaikan dan amal saleh, sesuai dengan syariat yang dibawa oleh Nabi penutup, Rasul terakhir Muhammad saw. Syariat yang menggantikan syariat sebelumnya. untuk kepentingan di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak.
Pada suatu waktu nanti, mau tak mau manusia akan kembali kepada Allah swt. memenuhi panggilan-Nya, ke alam Baqa. Di sanalah nanti Allah swt. akan memberitahukan segala sesuatunya tentang hakikat yang diperselisihkan mereka. Orang-orang yang benar-benar beriman akan diberi pahala, sedang orang-orang yang ingkar dan menolak kebenaran, serta menyeleweng dari-Nya tanpa alasan dan bukti akan diazab dan dimasukkan ke dalam neraka.

Tafsir Jalalain Surah Al Maa-idah 48
وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الْكِتَـبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَـبِ وَمُهَيْمِناً عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ اللَّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَـجاً وَلَوْ شَآءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَحِدَةً وَلَـكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَـكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ إِلَى الله مَرْجِعُكُمْ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ.

(Dan telah Kami turunkan kepadamu) hai Muhammad (kitab) yakni Alquran (dengan kebenaran) berkaitan dengan anzalnaa (membenarkan apa yang terdapat di hadapannya) maksudnya yang sebelumnya (di antara kitab dan menjadi saksi) atau batu ujian (terhadapnya) kitab di sini maksudnya ialah kitab-kitab terdahulu. (Sebab itu putuskanlah perkara mereka) maksudnya antara ahli kitab jika mereka mengadu kepadamu (dengan apa yang diturunkan Allah) kepadamu (dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka) dengan menyimpang (dari kebenaran yang telah datang kepadamu. Bagi tiap-tiap umat di antara kamu Kami beri) hai manusia (aturan dan jalan) maksudnya jalan yang nyata dan agama dan yang akan mereka tempuh. (Sekiranya dikehendaki Allah tentulah kamu dijadikan-Nya satu umat) dengan hanya satu syariat (tetapi) dibagi-bagi-Nya kamu kepada beberapa golongan (untuk mengujimu) mencoba (mengenai apa yang telah diberikan-Nya kepadamu) berupa syariat yang bermacam-macam untuk melihat siapakah di antara kamu yang taat dan siapa pula yang durhaka (maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan) berpaculah mengerjakannya. (Hanya kepada Allahlah kembali kamu semua) dengan kebangkitan (maka diberitahukan-Nya kepadamu apa yang kamu perbantahkan itu) yakni mengenai soal agama dan dibalas-Nya setiap kamu menurut amal masing-masing.

BAB III
P E N U T U P

A. SARAN
Adalah sebuah keniscayaan bagi kita semua untuk mengimani kepada Para nabi dan Rasul yang telah diutus oleh Allah Swt dengan membawa Kitab-kitab yang merupakan bukti risalah atas kenabian dan kerasulan mereka serta sebagai pembawa jalan menuju cahaya Hidayah-Nya.
Pada ayat-ata yang menerangkan tentang bukti risalah kenabian inibanyak sekali pelajaran yang dapat kita petik dan teramat banyak hikmah yang bisa kita ambil, dank arena memang Al-Qur’an adalah wahyu Allah Swt. yang menjad pusaka untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Oleh krena itu beberapa hal yang harus kita lakukan untuk mendalami dan mentadabburi ayat-ayat tentang risalah yang telah ditafsirkan oleh beberapa mufassir diatas, diantaranya adalah :
1. Kita harus yakin seyakin-yakinnya bahwa tidak semata-mata Allah mengutus para Nabi dan Rasul ke muka bumi melainkan untuk menjadi peringatan kepada kita semua untuk bersatu dibawah naungan Al-Qur’an.
2. Melalui Tafsir ayat-ayat risalah ini semoga menjadikan kita bersyukur kepada Allah Swt. bahwa kita telah memeluk ajaran Islam dan Al-Qur’an menjadi pedoman hidup kita dan semoga kita diberikan kekuatan untuk mengamalkannya sebagai manifestasi keimanan dan kecintaan kita kepada-Nya.
3. Marilah kita bersama-sama untuk menegakan Al-Qur’an dimanapun kita berada, karena Al-Qur’an akan menjadi syafa’at bagi siapapun yang membacanya dan akan menjadi penyelamat bagi siapapun yang mengamalkannya.
Dengan demikian, pengamalan Al-Qur’an adalah sebuah keniscayaan untuk meraih kesuksesan dan mengeluarkan kita dari jarring permusuhan dan perselisihan, maka Allah Swt. menegaskan bahwa Al-Qur’an haruslah dijadikan sebagai dasar hokum atas sebuah keputusan, dan apabila manusia tidak berhukumkan terhadap Al-Qur’an maka tentulah ia berada pada golongan orang-orang yang Dzali, kaum Fasiq dan termasuk kepada orang-orang yang kafir. Na’udzu billah.

B. KESIMPULAN
Sebagaimana yang terkandung dalam surat An-Nahl (36), Al-Jumu’ah (2), dan Surat Al-Hadid (56) menerangkan tentang inti daripada penyampaian Risalah. Oleh karena itu, dalam pembahasan ini banyak mengandung masalah kenabian, ketuhanan, dan peribadatan terhadap Allah Swt Ilmu taubat adalah ilmu yang penting, bahkan urgen. Keperluan atas ilmu itu amat mendesak, terutama dalam zaman kita ini. Karena manusia telah banyak tenggelam dalam dosa dan kesalahan. Mereka melupakan Allah SWT sehingga Allah SWT membuat mereka lupa akan diri mereka. Banyak sekali godaan untuk melakukan kejahatan, dan banyak pula penghalang manusia untuk melakukan kebaikan.
Beragam cara dipergunakan untuk menghalangi manusia dari jalan Allah SWT. Beragam media setan, perangkat canggih, yang dapat dibaca, didengar (audio), dan disaksikan ( visual ) dimanfaatkan untuk tujuan itu. Semua itu dilakukan oleh setan-setan yang berada dalam negeri kita, maupun yang berada di luar. Diperkuat oleh jiwa dan nafsu ammarah bis su, yang mengajak kepada keduniawian, melupakan maut dan perhitungan akhirat, neraka dan surga, dan melenakkan diri dari mengingat Allah SWT. Sehingga mereka meninggalkan salat dan mengikuti hawa nafsu.
Melanggar janji yang telah ditekan bersama Allah SWT. Melewati batas-batas yang telah digariskan oleh Allah SWT, dan menabrak hak-hak manusia. Dengan tenang mereka memakan harta manusia dengan kebatilan. Dan tidak memperdulikan lagi dari mana harta yang ia dapatkan: dari barang dan cara yang halal atau haram.
Manusia amat membutuhkan orang yang memberi peringatan dan berteriak kepada mereka: Bangkitlah dari mabuk kalian, bangunlah dari tidur kalian, berjalanlah di jalan yang lurus, bertaubatlah kepada Rabb kalian, sebelum datang hari yang padanya tidak bermanfaat lagi harta dan sanak keluarga, kecuali mereka yang datang kepada Allah SWT dengan hati bersih.
Dalam struktur diri manusia tersimpan dua kecenderungan. Dan setiap orang, jika ditelusuri nasabnya akan sampai kepada: malaikat, Adam atau kepada syetan. Maka orang yang melakukan taubat, secara jelas telah mengajukan bukti bahwa ia adalah keturunan Adam, karena ia telah menjalankan sikap sebagaimana layaknya seorang manusia. Dan orang yang terus melakukan keburukan, tanpa kesadaran sedikitpun untuk melakukan taubat, dengan jelas telah mengajukan bukti bahwa ia adalah keturunan syetan.
Sedangkan peruntunan nasab hingga sampai ke nasab malaikat, dengan semata mengisi diri dengan kebaikan, adalah di luar batas kemampuan manusia. Karena kejahatan telah terpatri secara kuat bersamaan dengan kebaikan dalam struktur diri manusia. Hanya ada dua api yang dapat memisahkan dua unsur itu, yaitu api penyesalan atau api neraka jahannam.
Pada dasarnya, mata kuliah Tafsir bukanlah salahsatu mata kuliah yang harus selalu dipelajari secara tekun, akan tetapi jauh lebih bermakna jika kita mengamalkannya dengan cara mengajarkannya kepada orang lain serta memberikan pemahaman yang kita miliki kepada orang-orang yang belum kita ketahui.
Akhirnya, semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita semua untuk menjadikan Allah sebagai tujuan hidup kita, Rasulullah Muhammad Saw. sebagai Panutan hidup kita, Al-Quran sebagai imam dan petunjuk hidup kita, Jihad sebagai jalan juang kita dan Mati Syahid dijalan Allah menjadi cita-cita kita tertinggi. Sembari bermunajat kepada Allah Swt. dengan penuh khusyu’ dan khudlu’ mudah-mudahan sekecil apapun perbuatan kita yang senantiasa diiringi dengan keikhlasan menjadi kendaraan menuju surga Allah Swt. dan menempatkan kita beserta para Nabi dan rasul-Nya, bersama orang-orang yang ditunjukan kebenaran atas risalah-Nya, bercengkrama bersama para Syuhada dan shalihin dan termasuk golongan orang yang dicintai-Nya. Amiin …

Wallahu A’lam …

DAFTAR PUSTAKA

Al-Mahali, Imam Jalaluddin dan Imam Jamaluddin As-Suyuti. 2006. Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul. Bandung: Sina Baru Al-Gesindo.
Al-Su’ud, Fadh bin Abdul Aziz. 2005. Al-Qur’anul Karim wa Tarjamatu Ma’aniyah ilal Lughatul Indunisiyyah. Madinah Munawwarah: Qur’an compleks.
Al-Syeikh, Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq. 2003. Lubaabut Tafsir Min Ibni Katsiir. Bogor : Pustaka Imam Asy-Syafi’i
Ash-Shiddieqy, Muhammad Hasbi. 2000. Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nuur. Semarang: Pustaka Rizki Putra.
Quthb, Sayyid. 2004. Tafsir Fi Zilalil-Qur’an. Jakarta: Gema Insani.
Shihab, Muhammad Quraish, Muhammad. 2007. Tafsir Al-Misbah: pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.

About supriyadi

selalu ingin lebih maju

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s